Muhammad Farid Afandi Syam
Penggiat Literasi di Kedai Kopi Skripsi dan Aktivis Lingkungan
Penggiat Literasi di Kedai Kopi Skripsi dan Aktivis Lingkungan
Benturan Peradaban manusia, telah jauh menyita daya imaji dan narasi kritik. Manusia kini harus menghadapi satu kenyataan pahit. Di tengah gempita perkembangan infarastruktur dan teknologi, ada sebuah kewarasan menyimpang. Manusia kini harus kembali menerjemahkan etos kerja sains, atau paling tidak mereka harus membaca kembali postulat moralitas keagamaannya.
Melihat alam yang selalu mengalami eksploitasi. sudah menjadi kewajaran, jika alam merubah dirinya sebagai ibu tiri. Agama sebagai sesuatu yang melekat pada kemanusiaan, kini harus mengalami diaspora eksistensi. Bukan tanpa alasan diksi diaspora eksistensi menjadi progress dalam tulisan ini, jika kita melihat kondisi alam hari ini, yang dalam sepersekian detik menglami penurunan kualitas untuk menyokong kehidupan manusia. Maka dalam problematika itulah, agama menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa menyelamatkan manusia dari kehancuran akibat egonya sendiri.
Mungkin narasi ini, terlalu menyergap agama sebagi sebuah orientasi psikologi. Namun jika agama bisa menjinakan narasi antroposentrik, melalui dokmatika peradaban dan memulai kehidupan konservasi berbasiskan teologi mungkin itu akan sedikit menyelamatkan kehidupan hari ini. Namun fakta berkata lain, agama hanya menjadi semboyang kecemasan semata. Memelintir sakralitas alam sebagai sesuatu yang irasional, namun membangun spirit kapitalis dengan alasan pemanfaatan.
Sedikit menoleh ke dalam benturan klasik, di masa reneissance akan perdebatan panjang antara agama dan sains. Yang tidak ingin saling dihegemoni dalam menarasikan ontologi hingga epistemologi mereka. Dialektika rumit itu berhasi memelintir geosentris sebagai simbol keusaman corak berfikir, dan menggantikan dengan corak yang sedikit purba yaitu antroposentrik. Setelah melalui dialektika dalam beberapa dekade, hari ini alam menjadi taruhan dalam narasi keduanya. alam menuntut para teologi dan rohaniawan harus menjadi sintis dalam menyikapi problematika yang kini telah mengancam kehidupan manusia. dan para saintis dan ilmuan harus sedikit agamais dalam membuat terobosan baru.
Persoalan krisis lingkungan bukan terletak pada narasi sains, namun terlebih pada sikap para petinggi agama yang kurang ingin menjadi patner dalam mengawal isu-isu lingkungan. Sebab boleh jadi, para petinggi agama berfikir. Krisis lingkungan adalah urusan sains sedangkan urusan agama adalah bagaimana mengantarkan manusia kepada dimensi ketuhanan. Jika memang betul demikian, mungkin manusia harus menrestorasi asas mengapa dia diciptakan dalam konsep masing masing agama.
Krisis lingkungan melahirkan sebuah kecemasan valid akan kerusakannya dan bahkan kepunahan manusia. Jika persoalan ini tidak menyentuh nurani manusia, sebab dengan nuranilah manusia akan memiliki kesadaran moral. Jika dalam filsafat, etika diyakini sebagai sesuatu yang akan melahirkan ekstetika. Mungkin agama akan menjadi moralitas etik, yang sangat memungkinkan melahirkan estetika teologisnya. Sebab masing-masing agama memiliki hkasana teologinya. Itu berdasarkan sejauh mana pengaplikasian dan pencapainyan rohani penganutnya. Mungin ini telalu sufistik atau ekstase, namun jika hanya gerakan aktivisme konservasi yang ingin bergerak dalam upaya penyelamatan ruang hidup. Maka apalah arti sebuah kearifan dan sakralitas agama???
