THE ORIGIN OF UNIQUE IDEA

THE ORIGIN OF UNIQUE IDEA

deskripsi sumber ide dalam bentuk pohon
“bertanya”
Di mana aku mendapatkanmu, menemukanmu?
Bagaimana caraku mendapatkanmu, menemukanmu?
Kapan aku mendapatkanmu, menemukanmu?

Sejauh mata memandang lalu lintas ide dan pikiran itu bergerak, mencari, serta menemukan sesuatu yang khas. Yang khas inilah kemudian menjadi gagasan masalah nantinya. Pencarian atau hal yang reflex menemukan ide adalah suatu hal yang harus dicatat. Kumpulan dari beberapa ide sehingga menemukan ide yang khas, sesuai, dan menjadi konsumsi gagasan yang mumpuni nantinya. Semua ide pastilah memiliki titik khas, namun untuk si penulis atau si peneliti tertentu, tentu harus memikirkan ide khas yang cocok buat konteks keilmuannya. Keberadaan penulis dan peneliti tertentu memandang ide sebagai peluang menciptakan solusi bagi orang kebanyakan yaitu masyarakat. Ide dipandang memiliki urgensi, pragmatis, atau kalau terapan tentunya harus bisa diterapkan di tengah masyarakat yang semakin modern dan serba teknologi.

Jadi intinya ide khas yah. Nah muncul tanda tanya dalam hati teman-teman tentang sumber ide itu dari mana yah. Di paragraf kedua ini, saya akan bahas dengan Bahasa yang ringan, ala-ala kid jaman now. Intinya sumber ide itu bisa dari mana aja, di mana saja, dan kapan aja. Namun masalahnya kebanyakan kita tak tahu menanggapi ide itu. Karena sejatinya di alam yang tak tersentuh, di bawah sadar, kadang kita menemukan ide gila, ide yang kira membuat kita akan terkenal. Nah itulah yang saya tandai dengan ide khas. Nah sumber ide, saya bagi beberapa poin, yaitu:  

  • Pengalaman
Berbicara pengalaman berarti bicara masa lalu, dan juga sedang terjadi sekarang tepat di depan kita. Fenomena atau realitas yang pernah terjadi. Bisa juga dari kegagalan anda sebelumnya, atau ada hasil ide anda sebelumnya yang kemudian anda ingin kembangkan sehingga anda bisa melahirkan ide baru, yakni ide pengembangan. Pada pengalaman ini yang paling berperang penting ialah indra kita, semua jalan. Jadi apa yang kita dengar, lihat, atau rasa harus menjadi sandaran pada sumber ide ini. Pengalaman bisa membantu anda mengidentifikasi masalah dari ide anda pula.

  • Teori
Sumber kedua yaitu teori. Sumber kedua ini, selamanya pasti dari hasil bacaan ilmiah kita. Seperti jurnal, artikel ilmiah, makalah, skripsi dan lain sebagainya (dalam lingkup KTI). Dari teori yang kita baca, kemudian menghasilkan teori. Bisa berupa kontradiksi antar referensi, bisa pula dari kejanggalan penelitian terdahulu hingga pengembangan karya terdahulu.

  • Harapan
Ide juga berasal dari harapan-harapan teman kepada suatu objek ataupun subjek. Harapan ini tentunya berbicara tentang masa depan. Harapan misalnya agar daerah dapat berkembang, maka biasanya muncul ide cemerlang. Dari harapan ini, juga dibantu dari dua sumber di atas.

Tiga garis besar yang saya ajukan bagi teman yang lagi kewalahan mencari ide. Temukan ide anda! Bisa dengan berkontemplasi, menganalisa kejadian, membaca buku bahkan kalau dianugrahi Tuhan, maka ide dari sesuatu yang refleks tersebut bisa anda manfaatkan.



Baca selengkapnya »
LITERASI 2: KRISIS LINGKUNGAN DAN EKSISTENSI KEHADIRAN AGAMA

LITERASI 2: KRISIS LINGKUNGAN DAN EKSISTENSI KEHADIRAN AGAMA









Muhammad Farid Afandi Syam
Penggiat Literasi di Kedai Kopi Skripsi dan Aktivis Lingkungan



Benturan Peradaban manusia, telah jauh menyita daya imaji dan narasi kritik. Manusia kini harus menghadapi satu kenyataan pahit. Di tengah gempita perkembangan infarastruktur dan teknologi, ada sebuah kewarasan menyimpang. Manusia kini harus kembali menerjemahkan etos kerja sains, atau paling tidak mereka harus membaca kembali postulat moralitas keagamaannya.

Melihat alam yang selalu mengalami eksploitasi. sudah menjadi kewajaran, jika alam merubah dirinya sebagai ibu tiri. Agama sebagai sesuatu yang melekat pada kemanusiaan, kini harus mengalami diaspora eksistensi. Bukan tanpa alasan diksi diaspora eksistensi menjadi progress dalam tulisan ini, jika kita melihat kondisi alam hari ini, yang dalam sepersekian detik menglami penurunan kualitas untuk menyokong kehidupan manusia. Maka dalam problematika itulah, agama menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa menyelamatkan manusia dari kehancuran akibat egonya sendiri.

Mungkin narasi ini, terlalu menyergap agama sebagi sebuah orientasi psikologi. Namun jika agama bisa menjinakan narasi antroposentrik, melalui dokmatika peradaban dan memulai kehidupan konservasi berbasiskan teologi mungkin itu akan sedikit menyelamatkan kehidupan hari ini. Namun fakta berkata lain, agama hanya menjadi semboyang kecemasan semata. Memelintir sakralitas alam sebagai sesuatu yang irasional, namun membangun spirit kapitalis dengan alasan pemanfaatan.

Sedikit menoleh ke dalam benturan klasik, di masa reneissance akan perdebatan panjang antara agama dan sains. Yang tidak ingin saling dihegemoni dalam menarasikan ontologi hingga epistemologi mereka. Dialektika rumit itu berhasi memelintir geosentris sebagai simbol keusaman corak berfikir, dan menggantikan dengan corak yang sedikit purba yaitu antroposentrik. Setelah melalui dialektika dalam beberapa dekade, hari ini alam menjadi taruhan dalam narasi keduanya. alam menuntut para teologi dan rohaniawan harus menjadi sintis dalam menyikapi problematika yang kini telah mengancam kehidupan manusia. dan para saintis dan ilmuan harus sedikit agamais dalam membuat terobosan baru.

Persoalan krisis lingkungan bukan terletak pada narasi sains, namun terlebih pada sikap para petinggi agama yang kurang ingin menjadi patner dalam mengawal isu-isu lingkungan. Sebab boleh jadi, para petinggi agama berfikir. Krisis lingkungan adalah urusan sains sedangkan urusan agama adalah bagaimana mengantarkan manusia kepada dimensi ketuhanan. Jika memang betul demikian, mungkin manusia harus menrestorasi asas mengapa dia diciptakan dalam konsep masing masing agama.

Krisis lingkungan melahirkan sebuah kecemasan valid akan kerusakannya dan bahkan kepunahan manusia. Jika persoalan ini tidak menyentuh nurani manusia, sebab dengan nuranilah manusia akan memiliki kesadaran moral. Jika dalam filsafat, etika diyakini sebagai sesuatu yang akan melahirkan ekstetika. Mungkin agama akan menjadi moralitas etik, yang sangat memungkinkan melahirkan estetika teologisnya. Sebab masing-masing agama memiliki hkasana teologinya. Itu berdasarkan sejauh mana pengaplikasian dan pencapainyan rohani penganutnya. Mungin ini telalu sufistik atau ekstase, namun jika hanya gerakan aktivisme konservasi yang ingin bergerak dalam upaya penyelamatan ruang hidup. Maka apalah arti sebuah kearifan dan sakralitas agama???
Baca selengkapnya »
LITERASI 1: BUDAYA TUTUR

LITERASI 1: BUDAYA TUTUR





















HENDRA DIMANSA

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Merupakan Ketua IKPPSI Desa Sanjai


Karya: 1. Novel (Tiada Hari Yang Indah:Sujud Terakhir) dan Prosa (Aku Dalam Dekapan Syair:Pembebasan).
  
Saat ini gerakan literasinya banyak dilakukan di Kedai Kopi Skripsi, sebagai wadah yang menampung segala kebutuhan tentang literasi dan keilmiahan.


Di usia kanak-kanak yang belum mengenal aksara, cerita nenek menjadi perantara mengenal lingkungan sekitar. Sembari menanak nasi menuturkan berbagai hal, mulai dari perkara makan (baca: kehidupan) hingga makam (baca: kematian)”
Dapur menjadi wilayah kewenangan perempuan yang tak tergantikan, segaligus menjadi permulaan kehidupan. Sejak awal manusia mengawali proses kehidupannya dalam rahim perempuan, setelah lahir manusia tetap membutuhkan fungsi-fungsi rahim seperti makan dan minum, hal tersebut melekat pada dapur. Antara rahim dan dapur banyak diwarnai oleh sentuhan belaian sayang perempuan.Perempuan bukan hanya berperan mengandung bayi, tetapi lebih jauh perempuan memiliki peranan mengisi gizi bukan hanya tubuh melainkan juga pikiran. Biasanya perempuan (bisa ibu atau nenek) sembari menanak nasi menuturkan berbagai cerita, yang membuat daya hayal anak membumbung tinggi melukiskan berbagai hal, mulai dari makan hingga makam.
Penutururan kisah yang bermula pada makan (baca: kehidupan) mengantarkan cakrawalan imajinasi. Dahulu sebelum manusia mengenal nasi sebagai makanan pokok, proses untuk sampai mengenal nasi mengalami fase yang panjang. Bermula pada manusia mengenal tanaman yang tumbuh secara bebas kemudian dikenal dengan nama padi. Tetapi, jangan langsung pikirkan bahwa setelah itu manusia sudah bisa menanak nasi sebagaimana disaksikan oleh kedua bola mata setiap hari di dapur.Proses panjang mengawali perkembangan manusia untuk sampai pada mengenal nasi, menurut cerita awalnya bukan biji padi yang di masak untuk di makan melainkan kulit luarnya. Setidaknya demikian penuturan nenekku, tiba-tiba imajinasiku seolah dibuat memasuki lorong kehidupan yang teramat jauh dari kehidupan yang senantiasa terlihat dan terlintas dibenak. Bila itu benar-benar terjadi, betapa panjangnya proses perjalanan manusia untuk sampai pada nasi sebagai salah satu makanan.Betapa tekunnya manusia mencoba berbagai hal, dalam menjalani kehidupannya. Artinya manusia senantiasa berproses untuk sampai pada suatu fase. 
Hal yang membahagiakan dalam cerita nenekku, ternyata yang membuat peralihan dari memakan kulit luar padi ke memakan biji padi bermula pada kreativitas bermain anak-anak yang memasak biji padi. Karena, biji padi dulu hanya dibiarkan berserakan yang oleh anak-anak dijadikan sebagai bahan mainan untuk masak-memasak.Akibat proses masak-memasak oleh anak-anak, akhirnya banyak yang melihat ternyata biji padi yang di masak jauh lebih baik dimakan dibandingkan dengan kulit luarnya. Setelah itu, secara perlahan manusia mulai menjadikan biji padi sebagai makanan pokok. Dari cerita nenek kudapatkan bahwa sesungguhnya kreativitas yang dimiliki oleh anak-anak semestinya dipelihara. 
Walau cerita nenek tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi ada pesan yang penting dari cerita itu yakni pentingnya kreatifitas.Perkembangan kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari orang-orang yang berdaya kreatif. Jepang, China, Korea, Taiwan, Amerika Serikat, Jerman dan banyak negara-negara maju lainnya, adalah negara yang sukses menjaga kreatifitasnya. Di mulai dari proses pendidikan usia dini yang memberikan porsi besar pada pengembangan kreatifitas, tetapi mari berkaca pada bangsa Indonesia yang pendidikan usia dini dari TK ke SD malah lebih banyak membuat daya kreatif melemah. Semenjak SD banyak membebankan pekerjaan rumah yang sifatnya matematis, kurang memberi ruang pengembangan daya kreatif. Hingga berlanjut ke perguruan tinggi, yang banyak menghasilkan daya kekhawatiran dibandingkan daya kretifitas.Cerita nenek berlanjut pada makam setelah manusia mengenal biji padi sebagai makanan. 
Kehidupan terus berlanjut, pertentangan antar manusia mewarnai kehidupan. Mulai dari kehadiran Belanda yang dirasa cukup mencekam, sebab ada banyak kejadian yang membuat hilangnya nyawa manusia. Bermula pada pembakaran pasar, yang membuat porak-porandanya kehidupan. Pasar di masa lalu memiliki peranan yang tidak sekedar bertukar barang atau sekedar memenuhi kebutuhan dapur. Melainkan, dari pasar bermula proses interaksi dan bertemu untuk saling bertukar berbagai hal, dari yang privat ke yang publik.Pertemuan di pasar memberikan makna tersendiri, guna saling berbagi berbagi permasalahan. Lahirnya sikap dan rasa senasib sepenanggungan memenuhi ruang-ruang pikiran dari orang-orang yang bertemu di pasar, akan rasa tertekan kemerdekaannya oleh penjajah Belanda.
 Cerita pembakaran pasar yang dituturkan oleh nenek, dikemudian hari mulai perlahan kupahami sejak membaca buku-buku sejarah. Setidaknya alur cerita nenek menyambungkan pada, lahirnya pergerakan yang dimotori oleh para pedagang yang menentang penjajah Belanda yang dalam sejarah Indonesia dikenal dengan nama Sarekat Dagang Islam.Pasar telah menjadi ruang publik di masa lalu, yang akhirnya memotori lahirnya rasa nasionalisme. 
Terjadinya pergeseran dari sikap privat (individu) ke sikap mementingkan publik menjadikan pasar mewarnai berbagai perkembangan. Bukan hanya di masa lalu pasar memainkan peran, tetapi hingga hari ini pasar memberikan berbagai kontribusi bagi perkembangan kehidupan manusia.Bila seorang pemikir Roland Bartes melontarkan ungkapan “matinya sang pengarang” yang memisahkan antara teks dengan pembuat teks, maka untuk konteks budaya tutur “matinya sang penutur” memisahkan antara cerita masa lalu dengan manusia hari ini, menjadi penanda hilangnya kebudayaan (melingkupi cerita, pengetahuan dan kepercayaan). 
Merawat dan menghidupkan budaya tutur menjadi sangat penting guna mewariskan DNA kebudayaan kepada generasi pelanjut. Mungkin tidaklah mengherankan bangsa Jepan tetap mewariskan Sumo, China tetap memelihara konsep Ying dan Yang dan bangsa-bangsa maju lainnya masih tetap hidup berdampingan dengan masa lalu mereka, akankah Indonesia juga demikian ?



Baca selengkapnya »
SKRIPSIKU PENGHAMBAT WISUDAKU

SKRIPSIKU PENGHAMBAT WISUDAKU

Banyak yang bilang, dunia akademik atau dunia kuliah di perguruan tinggi tertentu seperti dunia hukum, banyak sekali pasal dan aturannya. Aturan-aturan yang dimuat itu hingga banyak mahasiswa yang merasa pecah kepala dibuatnya. Teman-teman pasti tahu, apa lagi kalau ada pernyataan “susah masuk, lebih susah keluarnya.” Jangan fiktor alias pikiran kotor!
Maksud dari perkataan tersebut, kalau masuk ke perguruan tinggi sangat susah, karena biasanya mengikuti berbagai tes. Di antaranya adalah tes tertulis, tes kesehatan bahkan tes tinggi. Penulis sendiri pernah gagal dalam tes tinggi, karena tinggi badan tidak sampai dengan syarat masuk di jurusan perawatan UIN Alauddin Makassar.
Kemudian “lebih susah keluar” karena “TUGAS AKHIRNYA.” Tugas akhir atau skripsi bagai dewa ketika mahasiswa telah usai pembelajarannya di semester awal sampai akhir maka mereka akan beralih mengerjakan skripsinya sebagai syarat memperoleh gelar yang sesuai dengan bidang studinya. Akan lebih sulit lagi ketika pengetahuan akan penguasaan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar sangat minim dimiliki oleh mahasiswa tingkat akhir serta penguasaan metodologi yang masih abal-abal.
Selain hal di atas, mahasiswa tingkat akhir ini biasanya menganggap bahwa mendapatkan pembimbing dan penguji killer alias ganas diangggapnya sebagai setan. Lebih dramatisnya mereka bahkan shalat malam hanya untuk meminta tidak dibimbing atau diuji oleh si Killer yang dimaksudnya. Bahkan anehnya para  mahasiswa yang saya temui menyuarakan teori “semua jurusan pasti ada dosen killernya.”
Ketakutan inilah yang kira membuat mereka lama atau cepat mengerjakan tugas akhirnya. Lama dan cepatnya ditentukan dengan karakter dan prinsip hidup mereka. Kalau prinsipnya “tekanlah maka akan kugas alias kerja keras maka akan cepat. Kalau lama pasti sungkan ketemu dan takut salah sampai takut dicoret skripsinya sama dosen. Yah untung dan rugi kalau dapat pembimbing killer. Di bagian lain akan ada triknya menghadapi si killer yang juga saya sering bagikan kepada pengunjung kedai saya, @kedaikopiskripsi. Lama dan cepatnya kita kerjakan skripsi juga tergantung pada giat tidaknya kita melakukan, melaksanakan, membaca serta menulis yang berkaitan dengan penyelesaian skripsi yang kita buat. Tebal telinga juga perlu kita miliki, akan berat bagi mahasiswa yang sering mengritik, karena pada umumnya pengkritik tidak suka dikritik. Saran buat mereka adalah tebal telinga lah, dunia ilmiah dan aturan instansi sangat berlaku dalam penyelesaian skripsi kita nanti.

Penulis oleh Arman B
Baca selengkapnya »
SEMUA TERGANTUNG RESEARCHER-NYA

SEMUA TERGANTUNG RESEARCHER-NYA

semua kevalidan penelitian, alat dan data dikembalikan kepada penelitinya

Diskursus masalah masyarakat saat ini  sangatlah luas, khususnya di Negara Indonesia ini 
baku tonjok data palsu adalah kegemaran untuk kebanyakan masyarakat. Hal tersebut bisa diperhatikan di sosial media, facebook, instagram, twitter bahkan di media televisi pun ikut menyuarakan kebohongan data palsu itu. Fiksinya hal ini dikatakan dunia tempat-panggung sandiwara. Namun yang paling aneh adalah kebohongan data ini sering dipraktekkan di dunia mahasiswa saat ini. Google dan facebook sebagai sumber primer mereka. Kegiatan ilmiah atau meriset adalah kegiatan yang membosankan bagi mereka. Bahkan mereka lebih menghabiskan waktunya untuk bermain game baku tembak daripada meriset apa yang menjadi masalah hidup saat ini. Tentu sikap apatisme tak terelakkan dari kebanyakan manusia, namun pembiaran cara hidup seperti ini akan membunuh karakter seseorang itu hingga ia  membusuk dalam cara hidup apatis.
Data palsu yang banyak diakui tentunya akan menjadi konsumsi enak oleh para pemangku kepentingan dengan data tersebut. Data yand dibuat karena data itu adalah senjata untuk menyerang lawan si pemangku kepentingan. Data palsu tersebut yang terakui melalui kajian, katanya. Namun kesalahan data, pengambilan data dan pemalsuan identitas, bahkan jatuh di kesalahan metode ini ditentukan oleh peneliti atau researcher.  Sangat bermasalah membiarkan kesalahan-kesalahan tersebut tersebar bahkan dijadikan klaim kebenaran, serta bisa berpotensi membuat kefanatikan. Dalam agama Islam diajarkan bertabayyun, maka dari itu, sebagai pencegahan data tersebut meluas maka diadakan data real sebagai data tandingan demi kemaslahan bersama.
#kedai kopi skripsi






Baca selengkapnya »